Feeds:
Pos
Komentar

Lihat lebih dekat…

Dari kejauhan kau mungkin akan melihat

Sikapku tak lebih dari seorang pencemburu yang mengekang dan terlalu posesif

Tapi cobalah kau lihat lebih dekat

Maka kau akan tahu, kekuatiran akan keselamatan dan kenyamananmu memenuhi seluruh isi kepalaku

Dari kejauhan kau mungkin akan melihat

Aku hanya seorang pendebat kusir yang tak pernah mau mengalah

Tapi cobalah kau lihat lebih dekat

Dan kau akan tahu, aku sebenarnya hanya ingin mengetahui jalan pikiran dan keinginanmu

Dari kejauhan kau mungkin akan melihat

Dan mungkin lelah mendengar celotehanku yang tak pernah berhenti

Tapi cobalah kau lihat lebih dekat

Dan kau akan tahu, aku jauh lebih ingin mendengar cerita, mimpi, harapan, dan semua kejadian di hidupmu

Dari kejauhan kau mungkin akan melihat

Aku hanya anak bungsu manja, yang tidak bisa dilepas tanpa penjagaan sedikit pun

Tapi cobalah kau lihat lebih dekat

Maka kau akan tahu, kupanjatkan doa di setiap sujudku supaya Allah menjagamu dengan penjagaan-Nya yang sempurna

Dari kejauhan kau mungkin akan melihat

Tawa canda selalu mengiringi hari-hariku

Tapi cobalah kau lihat lebih dekat

Dan kau akan tahu, di setiap malam aku menangis membayangkan ketika kau tak lagi di sampingku

Dari kejauhan kau mungkin akan melihat

Hidup sempurnaku yang selalu dikelilingi teman-teman

Tapi cobalah kau lihat lebih dekat

Dan kau akan tahu, di hidupku kini hanya ada aku, masalah, masalah, dan masalah

Aku mungkin hanya akan menangis satu dua hari

Ketika orang lain yang menyakitiku

Namun, aku takkan bisa berhenti menangis

Jika, kau yang menyakitiku

Sekecil apapun itu

-14 September 2010-

Apa sih cumlaude itu…?? Cumlaude adalah gelar kehormatan Latin yang diberikan kepada pelajar sarjana dan pascasarjana yang meraih pencapaian akademik yang berbeda dan bisanya tertulis di ijazah. Gelar cumlaude berarti “dengan kehormatan” atau “dengan pujian”. Gelar lainnya adalah magna cumlaude (“dengan pujian/kehormatan besar”) dan summa cumlaude (“dengan kehormatan/pujian tertinggi”)..

Menjelang yudisium begini,, banyak mahasiswa yang meributkan apakah IPKnya cumlaude atau tidak dan berusaha setengah mati supaya bisa cumlaude. Ketika diadakan remidi kemaren,, banyak teman seangkatanku yang ikut ujian remidi hanya untuk mengubah nilai yang sudah B menjadi A dan diharapkan dapat menaikkan IPK… Well,, jangan timpuk aku pake pos ronda dulu… Emang seperti itulah kenyataannya… Bukan tak bersyukur memiliki nilai bagus (well,, B termasuk oke kan…?),, tapi yang mereka kejar memang gelar cumlaude…

Aku pernah bertanya ke salah satu teman yang mati-matian ikut remidi beberapa mata kuliah,, “Kenapa sebegitu ngototnya ingin cumlaude?”.. Dan dia menjawab: biar gampang dapet kerja… Dan ada pula yang menjawab,, biar pas wisuda,, bisa ngerasain dipindahin kucirnya ma rektor/dekan… oh, well… *geleng-geleng ga ngerti*

Permasalahannya adalah: benarkah ada persamaan yang menyebutkan IPK cumlaude = gampang dapet kerja…I dont think so… Let’s see… contoh paling terdekat adalah kakakku,, berIPK cumlaude lulusan Teknik Kimia UGM tak membuatnya gampang dapet kerja.. Sempat ia menganggur sekian waktu,, hingga akhirnya dapat pekerjaan.. Contoh lain,, pernah mendengar berita lulusan sebuah perguruan tinggi ternama berIPK cumlaude yang ternyata bekerja hanya sebagai cleaning service…?

Mungkin ada yang akan bilang: mau IPK cumlaude atau tidak,, yang namanya nasib sapa yang tau… That’s it…! Tadi aku baru saja membaca sebuah artikel tentang seorang OB yang kini menjabat menjadi seorang Vice President Citibank…! Tentu tak hanya sekedar nasib,, ada sebuah perjuangan ekstra keras untuk bisa mencapai posisi spektakuler macam itu… Dan kuncinya hanya dua: jangan pernah malu bertanya dan jangan berhenti berusaha…

So,, untuk bisa sukses di dunia kerja tidak hanya sekedar memiliki IPK cumlaude… Well,, ya untuk masuk ke dunia kerja IPK kita tentu harus bisa bersaing.. Tapi aku rasa,, ada banyak nilai yang lebih bisa diukur selain hanya dengan cumlaude.. Apalagi di jaman sekarang,, dimana nilai ESQ mulai diutamakan… Sikap kerja keras, jujur, tak kenal menyerah, selalu berusaha, dan pandai bekerja sama jelas lebih diutamakan.. Sebab,, tempat belajar sesungguhnya adalah pada saat kita kerja… Dan di dunia itulah,, aku mau mendapatkan “titel cumlaude”… Oh,, dan yang pasti NASIB memang memegang kunci… Sebab rejeki kan memang sudah diatur oleh-Nya…

Dan akhirnya… Happy Graduation…!!!! Perjuangan kita baru dimulai… Bismillah…

Bahkan monyet pun tak mau GAPTEK

-diambil dari http://www.kaskus.us-

Masa-masa belum kenal internet, yang punya telpon rumah masih jarang itu juga pesawatnya model yang puteran bukan yang pencet-pencet, ponsel apalagi, tapi semua itu tak bikin kita mati gaya..

jadi inget masa2 dolo

1. Naksir, ingin menembak si dia?

Pura-pura pinjam buku, lalu kembaliin plus “bonus” puisi cinta (dibikinin teman sih yang disogok pake permen endog cecak ). Ingat lagunya Iwan Fals- Buku ini Aku Pinjam. Agak frontal dikit, menaruh surat cinta di laci mejanya. Lebih telak lagi, bikin pesawat-pesawatan dari kertas, komplit dengan tulisan “I love you pulll”, awas saat mengirimnya jangan sampai nyasar mendarat di hidung guru BP yang sedang memberi penyuluhan di kelas …  Habis itu harap-harap cemas menanti surat …. penolakan … wakakak …. Gimana lebih enak ditolak lewat surat kan ketimbang lewat SMS, bisa dikumpulin buat kenangan koleksi penolakan yang kesekian … wakakak … Tentu saja mekanisme pengiriman pesan tersebut rawan penyadapan, dan bisa salah tembak. Maunya mengirim ke Susan, jatuhnya kok ke tangan Susanto .. wah bisa berabe … Ingat Jean Pattikawa nyanyi, “Surat cintaku yang pertama, membikin hatiku berlomba ….”, atau Kangen, “Kau Tuliskan Padaku Kata Cinta Yang Manis Dalam Suratmu …”, atau Kahitna, “Suratku ini, cerminan luka di hati …” Kalau sekarang mungkin liriknya berubah kali, jadi “Email cintaku yang pertama, membikin hatiku berlomba …” Yang jatuh cinta, suratnya disemprot parfum biar wangi, lha yang putus cinta? Ya disemprot Baygon saja … upss jangan deh ….

2. Mau kirim-kirim salam?

Pulang sekolah mampir dulu ke kantor Stasion Radio untuk nitip pesan. Sore-sore siap di depan radio sambil pasang kuping nunggu pesannya dibacain, “Ya, buat paman gembul, nirmala dan donal bebek, tadi di kelas paman gober marah-marah melulu, hati-hati dengan si sirik, buat don kisot kembaliin kaset genesis gue, buat penyiarnya yang rukun aja ya …, dari ikkyu san di planet krypton …. oya titip lagu madu dan racunnya Ari Wibowo … spesial buat samwan yang tega meninggalkanku ….” Puas deh rasanya …, padahal yang dikirimin pesan lagi pada molor semua …. Makanya lain kali jangan cuma kirim salam, tapi kirim juga laos, temulawak, kunir, dll …. lho?

3. Mau menelpon lokal siapkan kepengan, dulu sih seratusan perak, yang tipis lho bukan yang tebal.

Sambil cari-cari telpon umum yang masih utuh, soalnya ada yang cuma tinggal gagangnya doang, ada juga yang “interior” masih utuh, jebulnya di atas nggak nyambung ke kabel telpon. Kadang nemu yang jalan, eh dipake tempat pacaran, atau berteduh waktu hujan. Pernah sih nunggu orang selesai telpon, eh dianya ngeluarin recehan segepok taruh di atas pesawat telpon. Ya udah deh, nyari lainnya aja …. Eh malah diajarin anak-anak kecil ngunthet koin pake kawat, hayooo …. Masih ingat pesan nan “mengharukan” ini, “Tiga menit waktu anda sudah habis, silakan masukkan koin lagi …”  Duh, koinnya dah habis buat main dingdong …..

4. Mau menelpon interlokal

Begadang nunggu di atas jam sepuluh malam, atau bangun jam empat pagi, lalu buru-buru ke wartel, biar dapat tarif murah/diskon. Saya ingat ketika itu, wartel masih jarang, bahkan kadang harus absen dulu terus pulang lagi ke rumah, dua jam lagi baru balik dan sampai gilirannya, saking banyaknya yang antri. Jadi ada wartel yang tiap malam selalu ramai, mirip agen porkas mau bukaan saja.

5. Menerima telpon

Bagi anak kost yang cari tempat kost, biasanya punya pertanyaan tambahan, “Ada telpon?”. Soalnya bisa numpang menerima telpon di tempat ibu kost. Siap-siap pagi-pagi jam empat dipanggil-panggil ada telpon interlokal dari kampung. Paling diledekin teman kost, “Tuh … kau disuruh buruan pulang, mau dikimpoikan dengan calon pilihan ibu kau ….” Ada juga yang gemar ngerjain di kost, kalau ada telpon dari cewek. Nggak mungkin deh punya rahasia, lha wong telpon masuk siapa-darimana seisi kost tahu semua (terutama ibu kost), belum yang hobi nguping ….

6. Pak Pos is my hero

Menunggu-nunggu Pak Pos datang  , terutama yang sedang di perantauan, kiriman kabar dari kampuang nan jauh di mato. Juga surat dari tambatan hati, wuiihhh ada cap bibirnya segala … Rasanya tulisan tangan plus wangi surat lebih berkesan (yah masak nulis surat cinta mesti ke rental dulu, lebih romantis tulisan ceker ayam ketimbang cetakan printer dot-matrik yang pitanya udah kusut dan mbrodholi, maklum di rental) soalnya bisa diciumi tiap hari…hihihi. Pokoknya Pak Pos is the one and only selalu dinanti meski kadang telat ….

7. Mau janjian?

Pastikan tempatnya dengan jelas, supaya jangan sampai tlisiban (apa ya artinya ini? pokoknya, kau kesini, dia kesitu, kau begini, dia begitu, dia menunggu di sana, kau menunggu di situ). Konyol kan kalau janjiannya di alun-alon lor, panjenengan menunggunya di alun-alun kidul. Benarkah keberadaan ponsel sekarang meminimalkan potensi tlisiban?

8. Kartu ucapan Hari raya

Nyari-nyari dan pilih-pilih kartu Lebaran atau Natal. Sebenarnya nggak apa juga sih pilih satu set yang sama, soalnya kirimnya kan ke orang yang berbeda. Ada yang kreatif, bikin sendiri kartu lebarannya digambar sendiri. Ngirim kartu biar hemat prangko, nggak usah dilem amplopnya ya …

9. Tidak ada telpon, mau kirim berita cepat

Pilihannya adalah kilat khusus. Atau lewat telegram saja (duh, yang ini udah punah deh), oke, kma ttkhbs (ssstt … pelajaran bahasa Indonesia di sekolah masih ada nggak cara menulis telegram?). Mau lebih hemat lagi tapi lebih cepat, ya belajar telepati aja … hahaha ….

10. Tidur lebih nyenyak, bangun lebih enak

Coba sekarang, baru melek dikit sudah melirik ada pesan masuk tidak, ada miscalled tidak, masuk WC aja ganti dulu statusnya, pagi-pagi belum sarapan burjo sudah sarapan pulsa dulu.

11. Lebih mudah bikin alasan/ngumpet

Kalau jaman sekarang kan alasannya cuman dua, low-bat atau nggak ada sinyal. Dulu nggak ada yang protes, “Kenapa sih telpon dimatikan, nggak diangkat-angkat, SMS nggak dibales….”

12. Apa itu di dalam kantong?

Kalau saku kelihatan mblendhuk, jelas bukan batangan HP apalagi blekberi, mungkin batangan coklat atau wafer. Atau jangan-jangan nggembol sego kucing buat sangu… hihihi….

13. Lebih banyak garuk-garuk

Kalau sekarang kan waktu bengong jari bisa diberdayakan untuk pijet-pijet tombol kalo nggak ngurusin SMS kan bisa main game di ponsel. Lha dulu masak gede-gede bawa gamewatch kan nggak wangun. Sebenarnya klaim ini masih perlu riset, benarkah keberadaan ponsel mengurangi frekuensi garuk-garuk. Kalo orang Jawa bilang, “Seko kukur-kukur malih dadi tutul-tutul”.

14. Mau backstreet ?

Bila perlu pakai cara pramuka, pakai bahasa sandi atau surat yang hanya bisa terbaca dengan cara khusus. Lha yang punya pesawat telpon di rumah juga ditungguin babe ama enyak.

15. Sebelum mulai pelajaran

Sekarang: Harap semua ponsel dimatikan, jangan ada yang mainan SMS saat pelajaran.

Dulu: Harap semua komik disimpan, jangan ada yang baca stensilan saat pelajaran

Dan ternyata aku DEPRESI…

Pernah mendengar tentang kata depresi…? Atau mungkin pernah membaca buku atau menonton kesaksian seorang penderita depresi…? Dari dulu aku suka sekali membaca buku-buku tentang psikologi. Pengalaman penderita depresi pun sering aku baca di buku Chicken Soup for the Soul. Meski aku tidak berhasil masuk ke jurusan Psikologi seperti yang aku inginkan, namun tahun lalu di kampus aku mendapat materi kuliah Farmakoterapi Sistem Syaraf Pusat dan salah satu topik bahasannya adalah tentang depresi.

Depresi adalah suatu gangguan perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apatis, pesimisme, dan kesepian. Keadaan ini sering disebutkan dengan istilah kesedihan (sadness), murung (blue), dan kesengsaraan. Gejala yang umum terjadi dari penderita depresi adalah kehilangan minat dan kegembiraan, kelelahan luar biasa, berkurangnya konsentrasi, percaya diri, dan harga diri, merasa tidak berguna, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri.

Beberapa hari terakhir ini aku merasakan beberapa gejala depresi tersebut. Aku merasa hariku begitu suram. Hal-hal yang bagiku dulu sangat menyenangkan menjadi terasa hambar. Bercanda dengan teman-teman menjadi hal mustahil untukku. Kerinduan luar biasa akan sosok ibu dan rumah begitu menyiksaku. Menonton film, membaca buku, atau mendengar lagu yang sedikit sedih mampu membuatku menangis sejadi-jadinya. Konsentrasi mengerjakan skripsi pun menjadi kacau balau dan kelelahan luar biasa mendera, lelah fisik, hati, dan terlebih lagi lelah pikiran. Aku juga merasa kesepian di tengah-tengah kota Jogja yang ramainya mampu membuat frustasi. Tak ada teman, tak ada keluarga, tak ada sahabat, tak ada pacar, tak ada siapa pun. Aku benci sekali ‘ditinggalkan’. Aku benci ‘kesepian’. Dan kini dua hal yang paling aku benci itu bersatu padu dan ‘membunuhku’. Sendiri, aku amat sangat benci.

Aku pengen teriak sekencang-kencangnya. Pengen lari entah kemana. Pengen nangis sejadi-jadinya. Bahkan aku pernah berpikir: bunuh diri pun akan aku lakukan bila hal itu mampu menghilangkan rasa sepi ini. Ya,, separah itulah yang aku rasakan.

Awalnya aku cuma merasa apa yang aku alami ini hanya karena pengaruh hormon akibar pre-menstruasi syndrome yang tiap bulan selalu aku hadapi, meski dengan intensitas keparahan jauh lebih tinggi. Tapi, tadi malam aku curhat dengan anak kosku yang kuliah di psikologi dan aku diberi semacam kuesioner untuk melihat potensi depresi dan voila…!!! I’M DEPRESSION…

Tak pernah kubayangkan aku akan menjadi salah satu dari sekian banyak penderita depresi di seluruh dunia. Tak pernah kubayangkan aku akan menderita gangguan psikologis ini. Dan tak pernah kubayangkan pula aku menderita ini di tengah kesepian, jauh dari kasih sayang orang yang mampu menyembuhkanku.

Yang aku harapkan semoga episode depresi ini tidak lama dan aku mampu bertahan menjalani hari-hariku. Meski sendiri.

Kumohon,, jangan jauhi aku…

Rasanya baru kemarin….

-inspired by blognya Mbak Maya-

Rasanya baru kemarin. Kamu menggenggam tanganku. Menyemangatiku ketika aku sedang lemah. Memelukku ketika aku sedang sedih. Menyeka air mataku saat menangis

Rasanya baru kemarin. Aku bisa melihat tawamu. Aku bisa mencium aroma tubuhmu. Dan aku tertawa bersamamu

Rasanya baru kemarin. Ketika kamu berjuang di Semarang. Meminta dukungan dan pengertian dariku. Dan aku selalu berdoa hanya untukmu

Rasanya baru kemarin. Melihat peluh dan lelahmu. Berjuang mengabdikan diri untuk masyarakat selama KKN. Dan aku melihat senyum puasmu ketika semua baktimu tuntas diselesaikan

Rasanya baru kemarin. Ketika dengan penuh semangat kamu bercerita tentang keinginanmu membuka usaha. Dan sedikit demi sedikit kamu wujudkan mimpimu itu. Percayalah,, aku selalu berdoa untuk kesuksesanmu

Rasanya baru kemarin. Ketika aku terlalu lelah dengan segala urusan skripsi ini. Dan kamu tetap sabar membimbingku. Saat itu aku sadar kamu-lah sosok imam yang aku impikan

Rasanya baru kemarin. Ketika aku melihat tatapan optimis di matamu saat bercerita soal mimpi masa depanmu. Dan aku senang aku diberi kesempatan untuk mendampingimu meraih mimpi itu

Rasanya baru kemarin. Ketika rasa kesepian menghinggapiku dan kerinduan akan rumah sudah tak terbendung. Dan kamu hadir untuk menemaniku meski tugasmu menanti untuk dikerjakan. Kau rela tinggalkan hanya untuk keegoisanku

Rasanya baru kemarin. Ketika aku bermimpi untuk selalu bisa terus bersamamu. Menjadi seseorang yang selalu bisa mendampingimu. Mampu menyemangatimu dan selalu berdoa untukmu

Rasanya baru kemarin. Kita berdebat tentang suatu masalah. Dan aku belajar memahami sudut pandangmu meski kamu tak pernah belajar hal itu

Rasanya baru kemarin. Aku menangis karena luka yang kamu buat. Aku meragukan cinta yang sudah kamu berikan. Tanpa aku tahu cintamu selalu ada untukku meski ragamu tak selalu ada

Rasanya baru kemarin. Ketika dengan pedih aku mendengarmu memintaku mencari penggantimu. Dan kamu sudah lelah mempertahankanku. Saat itu rasanya duniaku runtuh, hancur

Rasanya baru kemarin. Tapi ternyata kini benar-benar berbeda. Kau tak lagi ada disini. Kau bukan lagi seperti yang dulu. Tidak lagi sama. Rasanya baru kemarin dan kini semua telah berbeda

Seleksi Alam

Pernah dengar tentang teori SELEKSI ALAM…? Teori itu menyebutkan yang KUAT lah yang akan BERTAHAN… Teori ini muncul karena jaman dulu orang sanggup memakan saudaranya sendiri hanya untuk bertahan hidup. Dan ironisnya, teori ini kembali muncul akhir-akhir ini. Berita di TV soal tragedi KOJA memang sangat miris. Satpol PP dan warga (yang bahkan masih berusia belasan tahun) saling baku hantam. Gas air mata, pistol, tembakan, dan pukulan terjadi dimana-mana. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Menyaksikan darah berceceran dimana-mana, air mata panik seorang ibu mencari anaknya karena takut ia menjadi korban juga,dan teriakan Allahu Akbar berkumandang, aku menangis. Sungguh amat sangat miris. Kalimat ‘Allahu akbar’ yang agung dijadikan sebagai ‘excuse’ untuk melakukan kekerasan. Kenapa harus ada kekerasan? Kenapa harus ada persaingan? Apakah kehidupan baru bisa dirasakan ketika kita sudah mengalahkan yang lain dan menjadi pemenang?

Tanpa aku sadari teori seleksi alam ini juga sebenarnya ada di setiap jengkal kehidupan kita. Kita sedari kecil dididik untuk menjadi kuat supaya bisa bertahan di kehidupan ini. Dibekali ilmu macam-macam supaya bisa menjadi ‘orang’ dan sekali lagi, bisa bertahan. Mencari bocoran soal, supaya bisa lulus UAN. Menyewa joki, supaya bisa lulus tes CPNS. Melakukan korupsi, supaya memiliki materi berlimpahan dan bisa bertahan hidup di kota metropolitan. Yang tidak melakukan itu…? Mati saja lah. Again, seleksi alam.

Tak ada hati nurani. Tak ada rasa kasihan. Tak boleh ada rasa simpati. Yang ada hanya egoisme. Kepentingan pribadi di atas segala-galanya. Hanya ada AKU tak ada KAMU, KITA, atau MEREKA. Just ME…!

Dan berhati-hatilah dengan orang yang dekat denganmu bahkan orang yang kamu akui sebagai sahabat. Sadari: tidak ada sahabat sejati di dunia ini. Orang-orang hanya akan datang dan selanjutnya pergi dari kehidupan kita. Mereka memberi warna, tapi sejenak dan selanjutnya warna itu akan hilang. Tak perlu sedih jika kehilangan sahabat, pacar, atau siapapun. Manusia diciptakan sendiri dan mati pun nanti akan sendiri. Lantas untuk apa merasa sedih jika di dunia pun kita sendiri…? Orang yang paling kita sayang justru orang yang mampu menyakiti kita lebih dari apapun. Orang mampu memakan bangkai saudaranya sendiri jika terpaksa. Well,, seleksi alam again.

Selama ini, aku dibutakan kenikmatan akan kehadiran sahabat-sahabat dan orang-orang yang menyayangiku. Walau aku hidup merantau, aku selalu punya teman. Dan kini, setelah semua itu hilang dan aku hanya sendiri, aku sempat terpuruk. Aku ga mau bangkit dan hanya bertanya: WHY…? Well,, ga ada ‘why’,, ga ada alasan. Aku lupa bahwa semua orang dilahirkan kuat. Hanya saja,, seberapa mampu kita bertahan…? Kepergian mereka itu cambuk buatku untuk berdiri dan melangkah sendiri.

So,, KAMU, KAMU, KAMU, dan semua orang yang tadinya pernah ada di hidupku. Mewarnai hariku. Menemaniku. Pergilah. Jangan ganggu aku. Dan aku pun tak akan pernah mengganggumu. Biarkan aku hidup dan bertahan sendiri. Aku KUAT dan aku akan BERTAHAN.

Ada note dari Hellen Keller yang paling aku kagumi. Hellen Keller adalah seseorang yang sangat penuh keterbatasan dalam melakukan segala hal. Dia buta, tuli, dan bisu tapi lihat apa yang dia ‘katakan’: Because I cant do everything, I will do everything I can.

Hei dunia…!! I’m comeback for survive…!!

Totto Chan’s Children

Ada sebuah buku yang baru aku beli belum lama ini. Judulnya Totto Chan’s Children. Mungkin pernah ada yang baca buku berjudul Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela. Nah ini buku keduanya. Yang ngarang masih sama Tetsuko Kuroyanagi, seorang aktris tempo dulu dari Jepang. Di buku pertamanya, dia bercerita mengenai masa kanak-kanaknya yang dibesarkan di jaman Perang Dunia ke II. Saat bom menghancurkan Hirosima dan Nagasaki, saat itulah bangunan sekolahnya hancur luluh lantak. Buku Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela menjadi best seller dan diterjemahkan ke berbagai macam bahasa. Kisahnya yang sangat inspiratif dan sangat menggambarkan dunia anak-anak, mampu menghipnotis pembacanya. Bahkan ide kepala sekolah Totto chan yang membuat murid-muridnya bersekolah di dalam kereta api dipuji banyak kalangan pemerhati anak dan pendidikan.

Kepedulian Totto chan atau Tetsuko diperhatikan juga oleh pihak UNICEF, suatu lembaga sosial di bawah naungan PBB. UNICEF akhirnya menunjukk Totto chan sebagai duta UNICEF yang me’wajib’kannya berjalan-jalan keliling dunia mengunjungi anak-anak. Jangan bayangkan, perjalanannya bakal menyenangkan. Totto chan harus sanggup menahan hawa panas dan kekeringan di Afrika, belum lagi bau busuk dan kepedihan akibat perang.

Seperti yang digambarkan dalam buku Totto Chan’s Children, Totto chan bertemu dengan berbagai anak-anak kurang beruntung yang menderita kelaparan, kekeringan, dan penderitaan lain. Dulu aku pernah KKN di daerah yang cukup kering dan kekurangan air dan aku juga sempat merasakan panasnya Jogja yang pernah mencapai 38 derajat Celcius. Bayangkan ini: di Afrika Totto chan merasakan udara yang panas dan mencapai 62 DERAJAT CELCIUS…!! Belum lagi,, ketersediaan air yang nyaris tidak ada. Air yang diminum oleh warga adalah air kotor yang tidak dimasak, berlumpur, dan bercampur dengan feses manusia. Hujan pun hanya turun 1 x setahun,, itu pun yang beruntung. Ada negara yang baru bisa merasakan hujan 3 tahun sekali dengan curah hujan pun sangat sedikit.

Dalam buku ini juga ditampilkan foto anak-anak yang pasti mampu mengundang belas kasihan kita. Dengan air kotor yang terpaksa digunakan sebagai air minum, tentu tak heran jika penyakit diare, kolera, belum lagi tetanus menjangkiti anak-anak. Dan bahaya terbesar dari diare jelas adalah dehidrasi,, tak heran apabila anak-anak yang kena diare hanya tinggal tulang berbalut kulit saja. Masalah tetanus, TBC, Polio juga menghantui anak-anak padahal mereka bisa saja terselamatkan seandainya ada vaksin. Tapi, untuk bisa mendapatkan vaksin mereka harus menempuh ratusan kilo. Buat mereka, apabila sudah terkena sakit (sakit apapun itu), itu sama dengan tak lama lagi akan meninggal. Menyedihkan.

Selain kekeringan dan kekurangan air, yang lebih memprihatinkan lagi adalah perang. Perang apapun itu tak hanya mengorbankan tentara saja tapi juga warga sipil dan tak terelakkan lagi anak-anak. Pernah mendengar ranjau darat…? Di dalam buku ini disebutkan, di salah satu negara anak kecil digunakan sebagai umpan ranjau darat. Ketika ada rombongan warga sedang mengungsi, anak kecil yatim piatu selalu berjalan paling depan. Dan apabila ada ranjau darat, maka akan meledak dan anak itu akan meninggal, orang dewasa di belakangnya selamat dan memilih jalur lain. How it could be…??

Pernah mendengar tentang Perang Teluk di Irak…? Perang ini disebut sebagai perang target sasaran. Maksudnya,, dalam perang ini, tidak membom semua tempat secara brutal tapi hanya pada sasaran tertentu. Tapi jangan kira perang ini tak kejam. Yang menjadi target sasaran adalah pembangkit listrik. Dan itu menyebabkan satu negara ini mati listrik total. Jangan hanya membayangkan dengan mati listrik maka tidak bisa menonton tipi, tidak bisa ngerjain tugas, dan segala keluhan sepele yang biasa kita lontarkan saat mati lampu. Tidak,, yang diakibatkan dengan hancurnya pembangkit listrik ini jauh lebih parah: Pompa saluran pembuangan jadi tidak berfungsi karena tidak ada listrik dan (bayangkan!) terjadi banjir kotoran ke dalam rumah, tanpa listrik pun pompa tidak bisa menyuplai air minum ke rumah penduduk. Dan setelah tidak ada listrik, warga terpaksa berjalan puluhan kilometer untuk mendapat air. Itu pun juga bukan air bersih, karena tanpa listrik air kotor tak bisa dikelola. Belum lagi di rumah sakit, tidak bisa melakukan operasi karena tidak ada listrik. Stok vaksin pun rusak, karena menyimpan vaksin tanpa adanya listrik sama saja bohong alias percuma. Aku bisa merasakan pedih saat dalam buku dikutipkan perkataan seorang dokter yang bilang: “Tidak ada yang membuat dokter lebih frustasi daripada mendiagnosis penyakit dan tak bisa mengobatinya. Bisakah anda mengerti, betapa sulitnya bagi saya untuk tetap diam dan hanya memandang saat seorang anak meninggal?”

Ada satu gambar anak yang membuatku tersentak saat melihatnya. Gambar seorang anak perempuan yang tinggal di Vietnam yang terlahir tanpa mata. Dan ini semua akibat racun yang digunakan pada saat perang. Wajahnya kosong tanpa ekspresi mata yang ceria layaknya anak-anak. Lalu ada juga kejahatan tentara gerilya yang mengikat anak-anak di pohon dan kemudian memotong tangan dan kaki anak tersebut dengan golok dan ditinggalkan begitu saja. Kalaupun tidak mati, maka anak itu akan seumur hidupnya bergantung pada orang lain. Saat perang, pria akan diwajib militerkan, wanita akan diculik dan diperkosa oleh tentara, anak-anak kecil pun kehilangan ayah ibunya dan sekaligus kehilangan tangan kakinya.

Sungguh ini semua kisah nyata. Ada orang-orang menderita seperti ini di bumi yang sama-sama kita pijak. Tak pernah aku duga, di belahan dunia lain ada anak-anak yang tidak menjalani indahnya masa anak-anak seperti yang aku jalani dulu.

Dan membaca buku ini, membuatku tak henti mengucap kata syukur. Alhamdulilah….